Selasa, 15 April 2014

Artikulasi dan Hambatan Pengembangan Kurikulum



Artikulasi dalam pendidikan berarti “kesatupaduan dan koordiansi segala pengalaman belajar”. Tanpa artikulasi akan terdapat keberagaman baik dalam isi, metode, maupun perhatian terhadap pengembangan anak.
Untuk menyusun artikulasi, kurikulum diperlukan kerjasama dari berbagai pihak: para administrator, kepala sekolah, TK, sampai rector universitas, guru-guru dari setiap jenjang pendidikan, orang tua, murid dan tokoh-tokoh masyarakat. Salah satu hal yang sering dipandang menghambat artikulasi adalah pembagian menurut tingkat belajarnya. Hal itu menyebabkan tersusunnya organisasi mata pelajaran yang kaku.
Hambatan-hambatan pengembangan kurikulum diantaranya yaitu :
Hambatan pertama terletak pada guru. Hal itu disebabkan  karena kurangnya partisipasi guru yang disebkan oleh kurang waktu, kekurang sesuaian dan karena kemampuan dan pengetahuan guru itu sendiri. Hambatan lain yaitu dari masyarakat. Masyarakat dalah sumber input dari sekolah. Keberhasilan pendidikan, ketepatan yang digunakan membutuhkan bantuan serta input fakta dan pemikiran dari masyarakat.Hambatan lainnya yang dihadapi oleh pengembang kurikulum adalah masalah biaya.


Jumat, 11 April 2014

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum



1.     Perguruan tinggi
Kurikulum minimal mendapat 2 pengaruh dari perguruan tinggi pertama, dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi umum. Kedua, dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru di perguruan tinggi keguruan ( lembaga pendidikan tenaga kependidikan ). Perkembangan teknologi selain menjadi isi kurikulum, juga mendukung pengembangan alat bantu dan media pendidikan
Kurikulum lembaga pendidikan tenaga kependidikan juga mempengaruhi pengembangan kurikulum, terutama memlalui penguasaan ilmu dan kemampuan keguruan dari guru-guru yang dihasilkannya. Guru-guru yang mengajar pada berbagai jenjang dan jenis sekolah yang ada dewasa ini, umumnya disiapkan oleh LPTK ( IKIP, FKIP, STKIP ) melalui berbagai program yaitu program, D2, D3, dan S1.
2.     Masyarakat
Sekolah merupakan bagian dari masyarakat dan mempersiapkan anak untuk kehidupan di masyarakat. Salah satu kekuatan yang ada dalam masyarakat, adalah dunia usaha. Perkembangan dunia usaha yang ada di masyarakat mempengaruhi pengembangan kurikulum sebab sekolah, bukan hanya mempersiapkan anak untuk hidup, tetapi juga untuk bekerja dan berusaha.
1.        Sistem nilai
Sistem nilai yang akan dipelihara dan diteruskan harus terintegrasikan dalam kurikulum. Masalah utama yang dihadapi para pengembang kurikulum menghadapi nilai ini adalah bahwa dalam masyarakat nilai itu tidak hanya satu. Dalam masyarakat terdapat aspek-aspek social, ekonomi, politik, pisik, estetika, etika, religious dan sebagainya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam mengajarkan nilai: 1 guru hendaknya mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam masyarakat. 2 guru hendaknya berpegang pada prinsip demokrasi, etis dan moral. 3 guru berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang petut di tiru. 4 guru menghargai nilai-nilai kelompok lain. 5 memahami dan menerima keragaman kebudayaan sendiri.

Selasa, 08 April 2014

Pengembangan Kurikulum


         1.             Peranan Para Administrator Pendidikan
Para administrator pendidikan terdiri atas: direktur bidang pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kepala kantor wilayah, kepala kantor kabupaten dan kecamatan, serta kepala sekolah. Peranan administrator ditingkat pusat dalam pengembangan kurikulum yaitu menyusun dasar-dasar hukum, menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum. Atas dasar kerangka dasar dan program inti tersebut para adnministrator daerah dan administrator local dapat mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Para kepala sekolah mempunyai wewenang dalam membuat operasionalisasi system pendidikan padea masing-masing sekolah.

2.           Peranan Para Ahli
Pengembangan kurikulum membutuhkan bantuan pemikiran oleh para ahli baik ahli pendidikan, ahli kurikulum, maupun ahli bidang studi atau disiplin ilmu. Partisipasi para ahli pendidikan dan ahli kurikulum terutama sangat dibutuhkan dalam pengembangan kurikulum pada tingkat pusat. Apabila pengembangan kurikulum sudah banyak dilakukan pada tingkat daerah atau local, maka partisipasi mereka pada tingkat daerah dan local bahkan sekolah juga sangat diperlukan karena apa yang telah digariskan pada tingkat pusat belum tentub dapat dengan mudah dipahami oleh para pengembang dan pelaksana kurikulum didaerah.

3.           Peranan Guru
Guru memegang peranan yang cukup penting baik didalam perencanaan maupun pelaksanaan kurikulum karena guru merupakan perencana, pelaksana, dan pengembang kurikulum bagi kelasnya. Peranan guru bukan hanya menilai prilaku dan prestasi belajar murid-murid dalam kelas, tetapi juga menilai implementasi kurikulum dalam lingkup yang lebih luas. Guru juga bukan hanya berperan sebagai guru didalam kelas, ia juga seorang komunikator, pendorong kegiatan belajar, pengembang alat-alat belajar, pencoba, penyusunan organisasi, manager system pengajaran, pembimbing baik disekolah maupun di masyarakat. Guru juga berperan sebagai pelajar dalam masyarakatnya sebab ia harus selalu belajar struktur social masyarakat, nilai-nilai utama masyarakat, pola-pola tingkah laku dalam masyarakat. Sebagai pelaksana kurikulum maka guru pulalah yang menciptakan kegiatan belajar mengajar bagi murid-muridnya.

4.           Peranan Orang Tua Murid
Orang tua juga mempunyai peranan dalam pengembangan kurikulum. Peranan mereka dapat berkena/an dengan dua hal: pertama dalam penyusunan kurikulum dan kedua dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum tidak semua orang tua dapat ikut serta, hanya terbatas kepada beberapa orang saja yang cukup waktu dan mempunyai latar belakang yang memadai. Dalam pelaksanaan kurikulum diperlukan kerjasama yang sangat erat antara guru atau sekolah dengan para orang tua murid. Sebagian kegiatan belajar yang dituntut kurikulum dapat dilaksanakan dirumah dan orang tua sewajarnya mengikuti atau mengamati kegiatan belajar anaknya dirumah.

Senin, 07 April 2014

Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum


 
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman
belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah. Dalam kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. Rancangan ini disusun dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses pembimbingan perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendiri, keluarga, maupun masyarakat.
Guru merupakan pemegang kunci pelaksananan dan keberhasilan suatu kurikulum. Suatu kurikulum diharapkan memberikan landasan, isi dan menjadi pedoman bagi pengembangan kemampuan siswa secara optimal.

1.           Prinsip-Prinsip Umum

a.       Prinsip relevansi
Ada 2 macam relevansi yang harus dimiliki kurikulum yaitu relevan keluar dan relevansi di dalam kurikulum itu sendiri. Relevansi keluar maksudnya tujuan, isi dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat. Kurikulum juga harus memiliki relevansi di dalam yaitu ada kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu anatar tujuan, isi, proses penyampaian dan penilaian.

b.      Prinsip Fleksibilitas
Kurikulum mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, disini dan ditempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakangn dan kemampuan yang berbeda. Suatu kurikulum yang baik adalah kurikulum yang berisi hal-hal yang solit, tetapi dalam pelaksaannya memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondidi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang anak.

c.       Prinsip kontinuitas
Perkembangan dan proses perkembangan anak berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau terhenti.


d.      Prinsip Praktis
Kurikulum mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana danj biayanya juga murah dan disebut juga dengan prinsip efisiensi.

e.       Prinsip efektivitas
Walaupun kurikulum tersebut harus murah, sederhana tertapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan baik secara kuantitas maupun kualitas.

2.      Prinsip-prinsip khusus

a.       Prinsip Berkenaan Dengan Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan mencakup tujuanyang bersifat umum atau berjangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek ( tujuan khusus ). Perumusannya bersumber pada :
1)      Ketentuan dan kebijaksaan pemerintah, yang dapat ditemukan dalam dokumen-dokumen lembaga Negara mengenai tujuan, dan strategi pembangunan termasuk didalamnya pendidikan.
2)      Survey mengenai persepsi orangtua atau masyarakat tentang kebutuhan mereka yang dikirimkan melalui angket atau wawancara dengan mereka.
3)      Survey tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu, dihimpun melalui angket, wawancara, observasi, dan dari berbagai media massa.
4)      Survey tentang manpower.
5)      Pengalaman Negara-negara lain dalam masalah yang sama.
6)      Penelitian.

b.      Prinsip Berkenaan Dengan Pemilihan Isi Pendidikan
Memilih isi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang telah ditentukan para perencana kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal, yaitu:
1)      Perlu penjabaran tujuan pendidikan atau pengajaran ke dalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana.
2)      Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahua, sikap dan keterampilan.
3)      Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis yang berdasarkan 3 ranah belajar yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang akan diberikan secara simultan dalam urutan situasi belajar.


c.       Prinsip Berkenaan Dengan Pemilihan Proses Belajar Mengajar
Pemilihan proses belajar mengajar yang digunakan hendaknya memperhatikan hal-hal, yaitu:
1)      Apakah metode atau teknik belajar mengajar yang digunakan cocok untuk mengajar bahan pelajaran?
2)      Apakan metode atau teknik tersebut memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa?
3)      Apakah metode atau teknik tersebut memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat?
4)      Apakah metode atau teknik tersebut dapat menciptakan kegiatan untuk mencapai tujuan afektif, kognitif dan psikomotor?
5)      Apakah metode atau teknik tersebut lebih mengaktifkan siswa, atau mengaktifkan guru atau kedua-duanya?
6)      Apakah metode atau teknik tersebut mendorong berkembangnya kemampuan baru?
7)      Apakah metode atau teknik tersebut menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah dan di rumah, juga mendorong penggunaan sumber yang ada di rumah dan di masyarakat?
8)      Untuk belajar keterampilan sangat dibvutuhkan kegiatan belajar yang menekankan “Learning by doing” disamping “Learning by seeing and knowing”.

d.      Prinsip Berkenaan Dengan Pemilihan Media dan Alat Pengajaran
Proses belajar mengajar yang baik perlu didukung oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yang tepat. Hal-hal yang harus diperhatikan yaitu:
1)      Alat atau media pengajaran apa yang diperlukan. Apakah semuanya sudah tersedia? Bila alat tersebut tidak ada apa penggantinya?
2)      Jika ada alat yang dibuat, hendaknya memperhatikan: bagaimana pembuatannya, siapa yang membuat, pembiayaannya, waktu pembuatan?
3)      Bagaimana pengorganisasian alat dalam bahan pelajaran, apakah dalam bentuk modul, paket belajar dan lain-lain?
4)      Bagaimana pengintegrasiannya dalanm keseluruhan kegiatan belajar?
5)      Hasil yang terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multimedia.

e.       Prinsip Berkenaan Dengan Pemilihan Kegiatan Penilaian
Penilaian merupakan bagian integral dari pengajaran:
1)         Dalam penyusunan alat penilaian (test) hendaknya diikuti dengan langkah-langkah, yaitu:
·         Perumusan tujuan pendidikan yang umum, dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
·         Uraikan ke dalam bentuk tingkah-tingkah laku murid yang dapat diamati.
·         Hubungkan dengan bahan pelajaran.
·         Tuliskan butir-butir test.
2)         Dalam merencanakan suatu penilaian hendaknya memperhatikan beberapa hal yaitu:
·         Bagaimana kelas, usia, dan tingkat kemampuan kelompok yang akan di test?
·         Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan test?
·         Apakah test tersebut berbentuk uraian atau objektif?
·         Berapa banyak buti test yang perlu disusun?
·         Apakah test tersebut diadministrasikan oleh guru atau murid?
3)         Dalam pengolahan suatu hasil penilaian hgendaknya memperhatikan hal-hal berikut, yaitu:
·         Norma apa yang digunakan didalam pengolahan hasil test?
·         Apakah digunakan formula quessing?
·         Bagaimana pengubahan skor ke dalam skor masak?
·         Skor standar apa yang digunakan?
·         Untuk apa hasil-hasil test digunakan?

My Blog List